Nobar Film G30S/PKI, GEPAK Kalsel: Bukan Membuka Luka Lama, Tapi Belajar dari Sejarah
Baiman News, Banjarmasin – Malam di Kompleks Persada 2, Kelurahan Sungai Lulut, Banjarmasin, Rabu (1/10/2026), terasa berbeda dari biasanya.
Di atas tikar biru yang digelar di halaman, warga duduk lesehan. Cahaya proyektor memantul ke layar besar, menampilkan kembali film sejarah Pengkhianatan G30S/PKI.
Di sisi layar, sebuah laptop menyala dengan kabel-kabel yang tergulung. Termos oranye dan gelas-gelas plastik berada di sekitar warga yang sesekali berdiskusi. Suasananya sederhana, tetapi pembicaraan malam itu menyentuh persoalan sejarah dan perjalanan bangsa.
Nonton bareng (nobar) tersebut digelar Gerakan Pemuda Asli Kalimantan (GEPAK) Kalimantan Selatan sekitar pukul 20.30 Wita, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
Kegiatan itu digagas Ketua GEPAK Kalsel H. Junaidi bersama Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK), H. Rachmat Fadillah, SH.
Bagi penyelenggara, pemutaran film tersebut tidak semata-mata ditempatkan sebagai tontonan sejarah. Kegiatan itu juga menjadi ruang refleksi untuk mengajak masyarakat mengambil pelajaran dari perjalanan masa lalu.
Ketua Umum DPP FKPWK H. Rachmat Fadillah mengatakan, kegiatan tersebut bukan dimaksudkan untuk membuka kembali luka lama.
“Tujuan digelarnya acara ini refleksi bagi kita, bahwa dulu tidak mudah untuk berjuang termasuk ke depan, serta mengambil pelajaran agar dalam kehidupan sekarang tidak saling memfitnah,” ujar Rachmat sambil memegang mikrofon di tengah suasana lesehan.
Ia menekankan pentingnya menjadikan sejarah sebagai bahan pembelajaran agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam konflik maupun saling menyebarkan fitnah.
Sementara itu, Ketua GEPAK Kalsel H. Junaidi tampak khusyuk mengikuti pemutaran film sembari menggenggam telepon selulernya.
Sebagai pemerhati budaya Banjar, Junaidi turut mengingatkan generasi muda agar memiliki kewaspadaan terhadap berbagai gerakan yang berpotensi memecah belah masyarakat.
“Terlepas dari pro dan kontra film tersebut, saya mengingatkan generasi muda agar selalu waspada terhadap gerakan-gerakan yang mencoba mengadu domba,” katanya.
Menurut Junaidi, pola-pola yang berpotensi menimbulkan perpecahan dapat muncul dalam berbagai bentuk dan narasi.
“Mereka menghalalkan segala cara dan pola-pola itu sudah terlihat, kadang dibungkus agama atau pesantren. Tujuannya menonton ini mengingatkan kembali, bahwa riak itu masih ingin mencoba lagi,” ujarnya.
Ia juga menilai pemilihan 1 Oktober sebagai waktu pelaksanaan nobar memiliki makna tersendiri karena bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila.
“Alasan kenapa digelar tepat pada 1 Oktober yang paling cocok karena bertepatan dengan Kesaktian Pancasila,” kata Junaidi.
Dalam pandangannya, berbagai pengalaman negara di dunia dapat menjadi bahan perbandingan dalam memahami sistem politik dan kehidupan berbangsa.
“Komunis dibilang tidak baik, nyatanya China dan Rusia maju, liberal Amerika ternyata juga tidak baik. Karena itulah demokrasi yang benar adalah demokrasi yang berdasarkan Pancasila,” pungkasnya.
Hingga larut malam, warga Kompleks Persada 2 tetap bertahan menyaksikan film hingga tuntas. Setelah dan di sela pemutaran, diskusi ringan berlangsung di bawah temaram lampu teras.
Malam itu, halaman sederhana di Persada 2 berubah menjadi ruang perjumpaan warga tempat sejarah ditonton kembali, pandangan dipertukarkan, dan pengalaman masa lalu dibicarakan sebagai bahan refleksi untuk kehidupan berbangsa hari ini. (Yan)






