600 Hotspot Terdeteksi di Kalsel, Lanud Sjamsudin Noor Siapkan Patroli Helikopter dan OMC

0
IMG-20260906-WA0003

Baiman News, Banjarbaru – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan masih menjadi perhatian serius. Di tengah kondisi atmosfer yang relatif kering, pemantauan titik panas terus diperketat dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kembali disiapkan untuk membantu memperbesar peluang turunnya hujan.

Komandan Pangkalan TNI AU (Lanud) Sjamsudin Noor, Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, M.M.S., mengatakan laporan hasil pemantauan menunjukkan masih banyak titik panas yang terdeteksi di wilayah Kalimantan Selatan, Minggu (6/9/2026).

Berdasarkan sensor satelit, terdapat sekitar 600 titik yang terpantau. Namun, menurut Hilman, tidak seluruh titik tersebut dapat langsung dikategorikan sebagai hotspot yang berkaitan dengan karhutla.

“Memang masih banyak hotspot yang terjadi. Dari sensor satelit yang didapat ada sekitar 600 titik, tetapi yang kita percaya mungkin sekitar 40-an,” ujar Hilman.

Untuk memastikan kondisi sebenarnya, patroli menggunakan helikopter akan dilakukan. Tim akan memvalidasi kembali lokasi-lokasi yang terindikasi sebagai hotspot sekaligus menentukan wilayah yang berpotensi membutuhkan penanganan pemadaman.

Patroli Udara Jadi Langkah Validasi

Patroli udara dinilai penting untuk mencocokkan data sensor satelit dengan kondisi faktual di lapangan. Hasil validasi nantinya menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan, termasuk kemungkinan pengerahan pesawat untuk mendukung pemadaman.

Langkah tersebut dilakukan seiring masih ditemukannya potensi karhutla di sejumlah kawasan Kalsel.

Di sisi lain, OMC juga terus menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan curah hujan dan membasahi wilayah yang rawan terbakar.

OMC Beri Dampak Hujan di Sejumlah Wilayah

Hilman mengungkapkan, pelaksanaan OMC sebelumnya dilakukan sekitar pukul 16.00 hingga 18.00 WITA di sejumlah wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan.

Setelah operasi tersebut, laporan masyarakat menyebutkan hujan turun sejak sore hingga malam hari dengan durasi sekitar dua sampai tiga jam. Intensitas hujan bervariasi, mulai ringan hingga sedang, bahkan terdapat laporan hujan yang lebih lebat di sejumlah lokasi.

Kondisi tersebut juga diperkuat dengan hasil pengamatan citra satelit dan radar cuaca yang menunjukkan adanya pertumbuhan awan di wilayah bagian utara dan timur.

“Harapannya daerah utara dan timur ini sedikit terbasahi sehingga mengurangi peluang-peluang untuk kebakaran hutan dan lahan,” jelas Hilman.

Menurutnya, pembasahan tersebut penting untuk mengurangi tingkat kekeringan lahan yang menjadi salah satu faktor meningkatnya risiko karhutla.

Satu Pesawat Disiapkan untuk OMC

Untuk pelaksanaan OMC berikutnya, satu pesawat disiapkan untuk menjalankan misi penyemaian awan.

Sebelum penerbangan dilakukan, tim akan menggelar briefing sekitar pukul 10.00 WITA. Keputusan penerbangan akan ditentukan berdasarkan analisis para ahli terhadap kondisi atmosfer dan prospek pertumbuhan awan.

“Keputusannya nanti mungkin dilaksanakan siang. Rata-rata mungkin pelaksanaannya sekitar pukul 14.00,” kata Hilman.

Artinya, pesawat tidak otomatis diterbangkan hanya karena terdapat hotspot. Misi OMC tetap menunggu kondisi awan yang memenuhi persyaratan untuk dilakukan penyemaian.

Atmosfer Kering Jadi Tantangan

Hilman mengakui kondisi atmosfer yang sangat kering menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan OMC.

Kondisi tersebut membuat pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan menjadi terbatas. Karena itu, peluang penerbangan OMC harus dipantau dari waktu ke waktu.

“Karena kondisi alam kita, atmosfer udara sangat kering sehingga untuk terbentuknya awan-awan konvektif atau awan yang menghasilkan air itu sangat sedikit,” ujarnya.

Pemantauan pun dilakukan secara berkala. Setiap kali terdapat peningkatan peluang atau prospek pertumbuhan awan, tim terkait akan segera melakukan persiapan.

BMKG bersama unsur terkait terus memantau perkembangan atmosfer untuk mencari momentum yang paling tepat dalam melaksanakan operasi.

Berharap Pembasahan Meluas di Kalsel

Lanud Sjamsudin Noor berharap pelaksanaan OMC dapat membantu memperluas pembasahan wilayah Kalimantan Selatan selama kondisi kemarau.

Hilman mengatakan keberhasilan OMC sangat bergantung pada kondisi alam dan ketersediaan awan yang dapat disemai.

“Mudah-mudahan bisa terwujud sehingga pembasahan wilayah Kalimantan Selatan bisa lebih terpenuhi selama musim kemarau ini,” katanya.

Ia juga menyampaikan harapan agar hujan dapat turun lebih merata sehingga kondisi lahan menjadi lebih basah dan risiko kebakaran dapat ditekan.

500 Paket APD untuk Personel Lapangan

Selain memperkuat strategi pemantauan dan OMC, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap keselamatan personel yang berada di lapangan.

Hilman mengungkapkan pemerintah telah mengirimkan sekitar 500 paket alat pelindung diri (APD). Bantuan tersebut telah diterima melalui unsur Korem dan selanjutnya akan dibagikan kepada personel yang terlibat dalam penanganan karhutla.

APD tersebut diharapkan dapat meningkatkan perlindungan bagi petugas yang bekerja di lokasi kebakaran.

“Bantuan ini untuk meningkatkan keamanan daripada petugas-petugas pelaksana pemadaman kebakaran hutan dan lahan,” ungkapnya.

Menurut Hilman, penanganan karhutla bukan hanya soal bagaimana api dapat dipadamkan, tetapi juga memastikan personel yang bertugas tetap terlindungi.

Aspek keamanan, kesehatan, dan keselamatan petugas menjadi bagian yang tidak boleh diabaikan dalam setiap operasi.

Dukungan Disesuaikan dengan Kondisi Lapangan

Pemerintah, lanjut Hilman, akan terus memantau perkembangan situasi karhutla sebelum menentukan kebijakan berikutnya.

Jika kondisi di lapangan masih membutuhkan dukungan, pemerintah akan terus mendorong dan memperkuat operasi. Sebaliknya, apabila eskalasi karhutla mulai menurun dan kondisi membaik, pengerahan personel maupun dukungan operasi akan disesuaikan.

“Jika memang masih membutuhkan, pasti pemerintah akan mendorong, akan mendukung. Namun, jika memang sudah ada eskalasi menuju menurun atau membaik, mungkin akan disuruh kembali. Intinya akan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada di lapangan,” pungkas Hilman.

Dengan kombinasi pemantauan hotspot melalui satelit, validasi patroli udara, dukungan pemadaman, OMC, serta perlindungan bagi personel, upaya pengendalian karhutla di Kalimantan Selatan terus diperkuat untuk menghadapi kondisi kemarau. (Yan)

 

Tinggalkan Balasan

You cannot copy content of this page