NU untuk Negeri: Dari Resolusi Jihad hingga Transformasi Digital, Bukti Nyata Pengabdian untuk Indonesia

0
file_00000000a27471fa9399f0025b3a16e2(1)

Baiman News, Balangan – Nahdlatul Ulama (NU) kembali menegaskan posisinya sebagai organisasi keagamaan yang tidak hanya berperan dalam kehidupan spiritual umat, tetapi juga menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), membangun pendidikan, memperkuat ekonomi kerakyatan, hingga mendorong transformasi digital di era modern.

Hal tersebut mengemuka dalam Penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama Tahun 2026 yang berlangsung di Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasinya terhadap peran NU bagi bangsa dan negara.

“NU adalah organisasi keagamaan yang sangat nasionalis, sangat patriotik, dan sangat cinta Tanah Air. Jadi agamis, tetapi sekaligus nasionalis dan patriotik,” ujar Presiden Prabowo dalam sambutannya.

Senada dengan itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menegaskan komitmen Nahdlatul Ulama untuk terus hadir menjaga, merawat, serta memelihara persatuan bangsa dan negara. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH M Anwar juga memimpin doa bagi keselamatan bangsa dan kesuksesan para pemimpin negara dalam menjalankan amanahnya.

Forum Munas dan Konbes NU 2026 juga menjadi momentum memohon doa restu bagi pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang. Diharapkan, muktamar tersebut berjalan lancar dan menghasilkan kepemimpinan yang amanah, berintegritas, serta membawa keberkahan bagi Indonesia.

Peran Nyata NU untuk Bangsa

Memasuki usia satu abad sejak didirikan pada tahun 1926, Nahdlatul Ulama terus menunjukkan kontribusi nyata bagi Indonesia di berbagai sektor.

Di bidang pertahanan dan kebangsaan, NU memiliki sejarah panjang melalui Resolusi Jihad yang digagas oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1945. Fatwa tersebut menjadi salah satu pemantik semangat perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, termasuk dalam Pertempuran 10 November di Surabaya.

Selain itu, NU juga konsisten menjaga Pancasila sebagai ideologi final bangsa dan menjadi garda terdepan dalam menangkal paham radikalisme serta ekstremisme yang berpotensi mengancam persatuan nasional.

Dalam sektor pendidikan, NU mengelola puluhan ribu lembaga pendidikan melalui Lembaga Pendidikan Ma’arif NU serta ribuan pondok pesantren yang mengintegrasikan pendidikan agama, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pembentukan karakter. Kontribusi ini menjadi bagian penting dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul dan berakhlak mulia.

Sementara di bidang kesehatan dan kesejahteraan sosial, NU membangun jaringan rumah sakit, klinik, dan layanan kesehatan masyarakat di berbagai daerah. Melalui LAZISNU, organisasi ini juga aktif menyalurkan bantuan kemanusiaan, penanggulangan bencana, pemberian beasiswa pendidikan, hingga berbagai program pemberdayaan masyarakat.

NU juga berperan dalam memperkuat ekonomi kerakyatan melalui pengembangan koperasi, Baitul Maal wat Tamwil (BMT), program Santri Tani, serta berbagai upaya pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berbagai program tersebut bertujuan meningkatkan kemandirian ekonomi warga sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat.

Memasuki abad kedua, NU terus beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui transformasi digital. Salah satunya melalui pengembangan Platform Digdaya NU yang menjadi ekosistem digital untuk pengelolaan data organisasi serta layanan informasi publik. NU juga terus menghadirkan inovasi dalam kajian fikih kontemporer yang inklusif, termasuk penyusunan Fikih Disabilitas Mental Psikososial sebagai bentuk keberpihakan terhadap kelompok rentan dan marginal.

Apresiasi untuk Presiden Prabowo

A’wan PWNU Kalimantan Selatan sekaligus Dosen Fakultas Hukum Universitas Sapta Mandiri Balangan, H. Yadi Ilhami, S.HI., M.H., menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi atas kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam Penutupan Munas dan Konbes NU 2026.

Menurutnya, kehadiran Presiden merupakan bentuk perhatian dan penghormatan negara terhadap peran strategis Nahdlatul Ulama dalam perjalanan bangsa Indonesia.

“Kami warga Nahdlatul Ulama mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas kehadiran Bapak Presiden Prabowo Subianto. Semoga beliau senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan perlindungan Allah SWT dalam menjalankan amanah negara serta sukses memimpin Indonesia menuju kemajuan dan kesejahteraan,” ujar H. Yadi Ilhami.

Ia menegaskan, NU akan terus menjadi mitra strategis bangsa dalam menjaga persatuan, memperkuat nilai-nilai kebangsaan, serta mengawal pembangunan Indonesia yang berkeadilan dan berkemajuan.

“NU untuk negeri bukan sekadar slogan, melainkan pengabdian nyata yang telah dibuktikan selama satu abad perjalanan organisasi ini untuk rakyat dan Indonesia,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

You cannot copy content of this page